Dari sebuah pertanian, tentu takkan pernah terlepas dari kebutuhan air, karena air layaknya nyawa bagi tanaman. Tanpa air yang cukup, mau bibit sebagus apa pun, pupuk semahal apa pun, hasilnya tetap nggak bakal maksimal.
Dan untuk menunjang air dalam skala pertanian besar, peranan irigasi tentu sangatlah penting.
Bagi petani, irigasi tak hanya mengalirkan air ke sawah atau kebun. Lebih dari itu, irigasi adalah soal bagaimana mengatur air supaya tanaman bisa tumbuh optimal, tanah tetap subur, dan proses budidaya berjalan lebih efisien.
Terlebih di cuaca sekarang yang makin susah ditebak, kadang hujan deras, terkadang kemarau panjang. Kalau tak memiliki sistem irigasi yang jelas, wah, bisa-bisa tanaman stres duluan.
Maka dari itu penting bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia pertanian untuk memahami dasar-dasar irigasi. Krena dengan pemahaman yang tepat, petani bisa lebih siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan dan tak hanya bergantung dengan faktor alam semata.
Apa Itu Irigasi?
Irigasi adalah cara atau sistem yang digunakan untuk menyalurkan air dari sumber tertentu ke lahan pertanian. Sumber airnya bisa bermacam-macam, bisa dari sungai, waduk, sumur, kolam, sampai tampungan air buatan seperti tandon misalnya.
Air dari berbagai sumber tersebut kemudian dialirkan ke sawah atau kebun sesuai kebutuhan tanaman. Tujuannya jelas, supaya kondisi tanah tetap lembap dan tanaman bisa tumbuh dengan nyaman tanpa kekurangan air.
Irigasi bukan berarti asal ngasih air, karena ada proses settingannya, mulai dari kapan air diberikan, seberapa banyak volumenya, dan bagaimana cara air itu sampai ke akar tanaman.
Dalam praktiknya, sistem irigasi semakin berkembang seiring waktu, dari yang awalnya cuman mengandalkan aliran air secara alami. Namun sekarang, sudah banyak metode irigasi yang lebih modern dan efisien, disesuaikan dengan jenis tanaman, luas lahan, dan kondisi lingkungan.
Dengan irigasi yang tepat, petani pun bisa mengontrol kebutuhan air tanaman dengan lebih baik dan hasil panennya jadi lebih terjamin.
Manfaat Irigasi
Pertama dan yang paling jelas, irigasi membantu memastikan tanaman selalu mendapatkan pasokan air yang cukup. Jadi meskipun sedang musim kemarau atau hujannya gak turun sesuai harapan, tanaman tetap bisa bertahan dan tumbuh normal.
Dan tentu irigasi juga berperan dalam meningkatkan hasil panen, karena tanaman yang kebutuhan airnya tercukupi biasanya tumbuh lebih sehat, daunnya segar, dan proses pembentukan buah atau bulir jadi lebih optimal. Yang mana tentu akan berdampak ke produktivitas lahan yang semakin meningkat.
Manfaat lainnya, irigasi membantu penyerapan unsur hara di dalam tanah. Air berfungsi sebagai media penghantar nutrisi dari tanah ke akar tanaman, kalau tanahnya kekeringan, nutrisi akan sulit diserap.
Dengan sistem irigasi yang baik, unsur hara bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh tanaman.
Tak hanya itu, irigasi juga membuat kegiatan bertani lebih efisien. Petani bisa mengatur jadwal penyiraman, menghemat tenaga, bahkan mengombinasikan irigasi dengan pemupukan.
Alhasil, biaya produksi bisa ditekan dan pekerjaan di lapangan pun jadi lebih ringan.
3 Jenis Metode Irigasi yang Sering Digunakan Petani
Sekarang, metode pengairan di lahan pertanian ada banyak cara yang bisa dipakai. Tapi, berdasarkan praktik di lapangan dan juga rujukan dari FAO, ada tiga metode irigasi yang paling sering digunakan oleh para petani, khususnya untuk lahan tanam yang luas dengan jumlah tanaman yang banyak.
Ketiga metode yang dimaksud adalah irigasi permukaan, irigasi pancaran (sprinkler), dan irigasi tetes (drip irrigation).
Tentu masing-masing metode mempunyai kelebihan, dan kegunaan yang berbeda. Jadi, mau menggunakan metode yang mana biasanya disesuaikan dengan jenis tanaman, kondisi lahan, serta kemampuan petani dalam pengelolaannya.
Berikut masing-masing penjelasan ketiga metode tersebut..
1. Irigasi Permukaan (Surface Irrigation)

Irigasi permukaan adalah metode irigasi klasik dan banyak digunakan oleh para petani di Indonesia. Cara kerjanya sederhana, yaitu dengan mengalirkan air langsung ke permukaan tanah atau lahan pertanian tanpa menggunakan tekanan tinggi.
Dalam penerapannya, ada beberapa cara yang biasa dilakukan. Ada petani yang membuat parit atau got di sekeliling lahan, ada juga yang menggunakan pipa untuk mengalirkan air ke parit tersebut.
Setelah itu, air akan mengalir ke cekungan-cekungan di antara bedengan atau petakan lahan hingga tanah menjadi basah secara merata.
Untuk tanaman padi, metode ini bisa dibilang paling pas dan paling efektif, karena padi memang suka kondisi lahan yang tergenang air. Biasanya, air dialirkan dari saluran irigasi utama, lalu masuk ke sawah melalui lubang atau pipa kecil yang ada di pematang.
Dari situ, air menyebar dan menggenangi petakan sawah sesuai tinggi yang diinginkan.
Selain padi, irigasi permukaan juga masih sering digunakan untuk tanaman pangan lain seperti jagung. Sementara untuk tanaman buah, jeruk termasuk salah satu komoditas yang kerap memanfaatkan metode ini, terutama di lahan-lahan yang relatif datar dan pasokan airnya melimpah.
Kelebihan irigasi permukaan terletak pada kesederhanaannya, biayanya relatif murah, mudah diterapkan, dan tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Namun, metode ini juga perlu pengaturan yang baik supaya air tak terbuang percuma dan lahan tidak mengalami erosi.
2. Irigasi Pancaran (Sprinkler Irrigation)

Sedangkan irigasi pancaran atau sprinkler sudah menggunakan teknologi yang lebih modern. Pada metode ini, air dialirkan melalui pipa bertekanan, kemudian dipancarkan ke udara menggunakan alat pemancar yang disebut sprinkler.
Dengan begitu, air akan jatuh ke tanaman dalam bentuk butiran halus, mirip seperti hujan alami.
Keuntungan sistem sprinkler selain bisa menyalurkan air secara lebih merata, metode ini pun memungkinkan petani untuk menggabungkan penyiraman dengan pemupukan. Jadi, pupuk cair bisa dilarutkan bersama air dan disemprotkan langsung ke tanaman.
Menariknya, penggunaan irigasi sprinkler juga terbukti cukup efektif dalam membantu pengendalian hama, khususnya kutu kebul pada tanaman hortikultura. Pancaran air bisa mengganggu aktivitas hama tersebut, sehingga populasinya bisa ditekan tanpa harus bergantung pada pestisida.
Di lapangan, metode irigasi pancaran banyak digunakan oleh petani kentang, tebu, jagung, bawang merah, wortel, serta para pekebun atau penangkar bunga. Metode ini cocok untuk lahan yang tak harus selalu tergenang, tapi tetap membutuhkan pasokan air yang rutin dan merata.
Hanya saja, tantangan irigasi sprinkler ada pada kebutuhan sumber energi untuk menghasilkan tekanan air dan perawatan alat yang rutin supaya sistem tetap berjalan optimal.
3. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)

Sedangkan untuk ke efisiensian irigasi, irigasi tetes lah yang nomor satu. Metode ini bekerja dengan cara meneteskan air secara perlahan langsung ke zona akar tanaman melalui pipa atau selang yang memiliki lubang-lubang kecil.
Karena air diberikan tepat di area perakaran, irigasi tetes jadi sangat hemat air. Air takkan menyebar ke seluruh permukaan lahan, tapi fokus membasahi media tempat akar tumbuh.
Itulah mengapa metode ini banyak digunakan di kalangan petani hortikultura, terutama untuk tanaman seperti cabai, tomat, dan paprika yang sering dibudidayakan di greenhouse.
Selain hemat air, irigasi tetes juga membantu menghemat tenaga kerja dan biaya pemupukan. Pemberian pupuk bisa dilakukan bersamaan dengan aliran air, sehingga prosesnya lebih praktis dan terkontrol.
Tanaman pun bisa menerima nutrisi secara bertahap sesuai kebutuhannya.
Untuk membuat instalasi drip irrigation sederhana, ada beberapa komponen utama yang perlu disiapkan, diantaranya..
- Water source atau sumber air, bisa berupa tandon ecobulk atau kolam
- Water pump atau mesin pompa untuk mendorong air ke pipa PVC
- Ball valve sebagai katup buka tutup aliran air
- Pressure gauge untuk mengukur tekanan air
- Water filter untuk menyaring kotoran agar selang tidak tersumbat
- Knee pipe untuk menyambung pipa PVC di bagian belokan
- Start connector sebagai penghubung pipa PVC dengan drip tape
- Coupling untuk menyambung selang tetes satu dengan lainnya
- Line end untuk menutup ujung aliran pada pipa drip
- Pipa PVC sebagai jalur utama distribusi air
- Drip tape atau dripper line, yaitu selang tetes dengan jarak lubang bervariasi, mulai dari 25 cm, 30 cm, hingga 40 cm
Dan untuk instalasi atau skema bentuk irigasi tetes, kurang lebih silahkan teman-teman simak pada gambar dibawah ini..

Penutup
Jadi, irigasi bukanlah sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dari tanamannya sendiri. Tanpa sistem irigasi yang baik, potensi lahan pertanian sulit dimaksimalkan dan risiko kegagalan panen pun besar.
Tentunya, dalam pemilihan dan penerapan metode irigasi bisa disesuaikan dengan kondisi lahannya. Karena setiap lahan mempunyai karakter yg berbeda, begitu pula dengan tanamannya dengan kebutuhan air yang tidaklah sama.
Irigasi yang dikelola dengan baik akan membantu para petani menjaga kestabilan produksi, meningkatkan kualitas hasil panen, dan memastikan kegiatan pertanian bisa berjalan lebih berkelanjutan.