Pemupukan sebenarnya bukanlah sekadar urusan ngasih pupuk lalu tanaman subur dengan sendirinya. Di lapangan, banyak petani yang tanpa sadar justru keluar biaya besar hanya karena salah strategi dalam pemupukan.
Harga pupuk yang naik-turun, stok yang kadang susah dicari, hingga hasil panennya yang tak sebanding dengan modal, membuat urusan pupuk menjadi topik serius di kalangan petani.
Di sinilah pentingnya pemahaman tentang cara pemupukan yang mana bisa ngirit biaya, bukan berarti pelit pupuk, tapi lebih ke pintar mengatur dan menyesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Kalau pupuknya tepat, dosisnya pas, dan jenisnya sesuai, hasilnya bisa maksimal tanpa harus nguras dompet.
Lantas bagaimana cara pemupukan yang bisa ngehemat pengeluaran untuk pupuk? Disimak baik-baik ya apa yang akan admin sampaikan kali ini..
Cara Pemupukan Ngirit Biaya
Pupuk kimia sebenarnya sudah diklasifikasikan dengan cukup jelas berdasarkan komposisinya. Secara umum, pupuk kimia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
Pemahaman akan kedua jenis pupuk tersebut tentu adalah hal yang penting, karena dari sinilah sering muncul pemborosan yang bisa saja tak sobat sadari. Pupuk tunggal adalah pupuk kimia yang hanya mengandung satu jenis unsur hara makro.
Contohnya bisa ditemui di lapangan, seperti..
- Pupuk Nitrogen contohnya Urea atau ZA
- Pupuk Kalium seperti KCl atau ZK
- Pupuk Fosfor seperti SP36 atau TSP
Jenis pupuk ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan spesifik tanaman. Misal pas tanaman butuh dorongan pertumbuhan daun, ya fokusnya ke Nitrogen, kalau mau memperkuat akar dan bunga, baru main ke Fosfor.
Jadi penggunaannya lebih fleksibel dan bisa disesuaikan kondisi lahan.
Sementara itu, pupuk majemuk adalah pupuk yang di dalam satu kemasannya sudah mengandung dua, tiga, bahkan lebih unsur hara sekaligus. Contohnya pupuk NPK, KP, NP, NK, dan berbagai formulasi lain yang sering dijumpai di pasaran.
Karena kandungan unsur haranya lebih lengkap, pupuk majemuk hampir pasti dibanderol dengan harga yang lebih mahal dibandingkan pupuk tunggal. Coba saja bandingkan, pupuk NPK 16-16-16 harganya bisa di kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kg, bahkan KNO₃ bisa tembus Rp40.000 per kg.
Sementara pupuk tunggal seperti Urea non-subsidi masih di kisaran Rp10.000 per kg, SP36 sekitar Rp6.000–Rp8.000 per kg, dan ZA sekitar Rp6.000–Rp10.000 per kg. Dari sisi biaya saja sudah kelihatan bedanya cukup jauh.
Memang, kelebihan pupuk majemuk ada pada kepraktisannya. Dalam satu kali pengaplikasian, tanaman sudah mendapatkan beberapa unsur hara sekaligus.
Jadi ya gak perlu ribet ngoplos, atau mikirin dosis masing-masing unsur, tinggal tabur atau larutkan, selesai. Karena alasan inilah pupuk majemuk seperti NPK sangat disukai oleh petani yang ingin tanamannya tumbuh bagus tanpa berpusing-pusing urusan teknis pemupukan.
Masalahnya, cara ini sering dianggap kurang efisien dan cenderung boros, karena pupuk majemuk tetap diberikan secara rutin tanpa melihat kondisi tanah. Padahal, bisa jadi sebagian unsur hara yang ada di dalam pupuk tersebut sebenarnya sudah tersedia banyak di dalam tanah dari sisa pemupukan sebelumnya.
Tanaman pun hanya menyerap sesuai kebutuhannya, sementara unsur hara lain yang berlebih malah terbuang percuma, bahkan malah mengganggu keseimbangan tanah. Di titik inilah biaya pupuk membengkak, tapi hasilnya gak jauh beda.
1. Pemupukan Berbasis Informasi Lapangan
Pemupukan berbasis informasi lapangan sederhananya adalah memupuk berdasarkan kondisi nyata tanah, bukan asal nebak atau cuma ngikut kebiasaan musim sebelumnya. Jadi sebelum pupuk ditebar, tanahnya dianalisa dulu lewat hasil uji tanah.

Di lapangan, uji tanah bisa dilakukan menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) atau Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Alatnya cukup praktis dan cepat, karena bisa memberi gambaran kandungan unsur hara utama di dalam tanah, khususnya Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K).
Dari hasil uji inilah keputusan pemupukan diambil. Misal jika hasil uji tanah menunjukkan bahwa kandungan Fosfor (P) dan Kalium (K) masih tinggi, maka sebenarnya tak perlu lagi menambahkan pupuk P dan K.
Dalam kondisi seperti diatas, tanaman cukup diberi pupuk Nitrogen (N) saja untuk mendukung pertumbuhan.
Tingginya kandungan P dan K sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berasal dari residu pupuk musim tanam sebelumnya. Bisa jadi dulu pemupukan dilakukan cukup intens, sehingga masih ada sisa unsur hara yang tertinggal di dalam tanah.
Memang, terkadang unsur P dan K tersebut tak langsung tersedia karena terikat dengan unsur lain seperti Aluminium (Al), Besi (Fe), atau Kalsium (Ca). Contohnya, Fosfor bisa terikat ke dalam bentuk Kalsium Fosfat atau Aluminium Fosfat.
Secara kasat mata unsur tersebut seolah tak ada, padahal sebenarnya masih tersimpan di tanah.
Begitu pun sebaliknya, kalau hasil uji tanah menunjukkan bahwa kandungan Nitrogen sudah tinggi, maka tanaman tak perlu lagi ditambah pupuk N. Dalam kondisi seperti ini, petani cukup memberikan pupuk majemuk KP, misal Multi KP, MKP Pak Tani, dan sejenisnya guna melengkapi kebutuhan unsur lain yang masih kurang.
Sementara itu, jika tanah diketahui memiliki kandungan Nitrogen dan Fosfor yang tinggi, maka langkah paling tepat adalah menambahkan pupuk Kalium saja. Bisa menggunakan pupuk anorganik tunggal seperti ZK atau KCl, tanpa harus membeli pupuk majemuk yang harganya lebih mahal.
Karena dalam praktiknya yang terjadi di lapangan, hasil uji tanah sudah jelas-jelas menunjukkan P dan K tinggi, tapi tetap saja diaplikasikan pupuk NPK seperti NPK Yara, NPK Mutiara, atau NPK Phonska.
Di titik inilah pemborosan terjadi, tanaman gak butuh unsur tersebut, tapi tetap diberikan. Ujung-ujungnya, pupuk terbuang percuma dan biaya pun jelas membengkak.
Cara pemupukan seperti ini dikenal dengan istilah pemupukan tepat dan berimbang, yaitu pemupukan yang benar-benar menyesuaikan antara kebutuhan tanaman dan ketersediaan unsur hara di tanah. Unsur hara makro dipenuhi secara seimbang, tak kurang dan tidak berlebihan.
Pemanfaatan perangkat uji tanah jelas sangat membantu petani. Dengan informasi yang cepat dan akurat, petani hanya perlu memupuk unsur yang memang kurang, tanpa harus menghamburkan biaya untuk pupuk yang sebenarnya tak diperlukan.
2. Pemupukan Berbasis Mikroba atau Pupuk Hayati

Selain soal jenis dan dosis pupuknya, satu hal penting lainnyaa adalah kesehatan tanah. Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik terbukti bisa membuat tanah kering, mengeras, dan lama-kelamaan jadi tandus.
Tanah yang kering dan miskin bahan organik hampir bisa dipastikan minim kehidupan mikroba. Padahal, mikroorganisme berperan besar dalam membantu tanaman menyerap unsur hara.
Bahan organik sendiri berfungsi sebagai sumber makanan dan tempat hidup mikroorganisme, jadi kalau bahan organiknya minim, mikroba pun sulit berkembang.
Di dalam tanah, ada berbagai jenis mikroorganisme dengan fungsinya yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai penambat Nitrogen (N), ada yang bertugas sebagai pelarut Fosfor (P), ada juga yang membantu melarutkan Kalium (K).
Ada pula mikroba yang mampu menjalankan ketiga fungsi tersebut sekaligus, seperti Azotobacter dan Azospirillum.
Keberadaan mikroba sangatlah penting karena mereka mampu melepaskan unsur P dan K yang sebelumnya terikat dengan unsur lain di dalam tanah. Dengan begitu, unsur hara tersebut bisa kembali tersedia dan diserap oleh tanaman.
Artinya, petani tak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pupuk P dan K dalam jumlah besar.
Selain membantu pelepasan unsur hara, mikroba pun berperan dalam mendekomposisi bahan organik. Proses ini membuat unsur hara dari bahan organik menjadi lebih mudah diserap oleh akar tanaman.
Karena alasan inilah sekarang banyak dijual pupuk fermentasi, yaitu pupuk kandang atau bahan organik yang sudah diperkaya mikroba.
Pupuk fermentasi jauh lebih efektif dibanding pupuk kandang mentah, karena unsur haranya sudah siap tersedia dan ramah bagi tanah. Tanah jadi lebih gembur, kehidupan mikroba terjaga, dan kebutuhan pupuk kimia pun bisa ditekan.
Dengan mengombinasikan pemupukan berbasis informasi lapangan dan pemupukan berbasis mikroba, petani tak hanya bisa menghemat biaya, tapi juga menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Yang berarti tak hanya soal panen hari ini saja, tapi juga tentang keberlanjutan lahan untuk musim-musim berikutnya.
Penutup
Jadi, pemupukan ngirit biaya bukanlah soal strategi, bukan pula soal mengurangi pupuknya sembarangan. Dengan memahami perbedaan pupuk tunggal dan pupuk majemuk, para petani tentu bisa lebih bijak dalam menentukan pilihan.
Gak semua lahan butuh pupuk lengkap setiap saat, dan tak semua kondisi tanaman harus diselesaikan dengan pupuk mahal.
Kalau pupuk bisa disesuaikan dengan kebutuhan nyata tanaman dan kondisi tanah, pengeluaran bisa ditekan, lahan tetap sehat, dan hasil panen pun lebih menjanjikan. Dan dari sinilah langkah awal pemupukan yang cerdas dan hemat bpaya bisa dimulai.